20 Januari 2013

Behind the scene : Perjalanan ke Pulau Maratua

Belum pernah menggunakan jasa EO sebelumnya, kali ini aku dan temanku menyerahkan diri ke EO Kakaban Trip untuk jalan-jalan ke kepulauan Derawan pergantian tahun 2012 kemarin. Kenapa bisa memilih Kakaban Trip ? jujur, karena aku kepincut sama foto-fotonya yang bagus dan EO ini menawarkan untuk tinggal di Pulau Maratua. Bukan di Pulau Derawan seperti kebanyakan EO lainnya.

Mas Ahmad, salah satu orang dari tim Kakaban Trip sudah memberi kabar untuk menjemput. Karena jadwal kedatanganku dari Bali tidak sama dengan rombongan lain yang berasal dari Jakarta dan Balikpapan. Hujan yang mengguyur Kota Tarakan dari pagi, sedikit membuat khawatir akan mengganggu perjalanan ke Kepulauan Derawan dengan menggunakan speedboat dari pelabuhan Tengkayu. Deg-deg ser..

Tiba di Pelabuhan Tengkayu, hujan masih mengguyur tapi terlihat air surut di pelabuhan. Berarti, siang ini kami tak hanya kejar-kejaran dengan cuaca namun juga pasang-surut air. Tim dari EO benar-benar diuji kelihaiannya mengatur jalannya rencana. Kapal sedang dalam persiapan untuk bisa dinaiki penumpang. Dari info yang kudengar, akan ada penumpang yang naik ke kapal besar dan kapal kecil. Nah lhoo, kenapa ada kapal kecil untuk perjalanan dengan cuaca ekstrim ini. Kabar sedihnya lagi, aku termasuk penumpang yang naik ke kapal kecil. Olala, mamaa....

30 menit berselang, kami mulai naik ke kapal. Namaku disebut dan ternyata benar aku berada di kapal kecil.  Trik untuk naik speedboat untuk yang mabukan seperti aku, duduk belakang adalah kuncinya. Biar tidak terlalu terasa goncangan saat kapal menghantam ombak tinggi. Tapi kali ini, tantangannya bertambah dengan bau bensin / minyak bahan bakar kapal dari mesin kapal yang terletak di belakang. Uhui....hujan, ombak tinggi, kapal kecil dan bau minyak. Uji nyali, kawan! Penumpang kecil mulai dibekali doa dan pelampung per orang. Kapal kecil mulai berangkat duluan dengan 10 orang penumpang yang semuanya masih muda-muda.

Awal mula perjalanan masih bisa berkenalan satu sama lain, tanya ini itu, dan sepasang suami-istri yang kelak aku tau namanya Mbak Eka, masih bisa makan nasi bungkus di dalam kapal. Aku langsung mbatin, sakti ni orang gak mabok setelah makan dengan gelombang tinggi gini! 1 jam perjalanan, semua orang hening. Ada yang merem, ada yang pasang muka was-was, ada yang sudah muntah, dan aku hanya sesekali melek untuk melihat sekeliling kemudian merem lagi. Posisi duduk sudah acak kadul, pantat pun terasa nyut-nyutan karena pantat seringkali terlepas dari tempat duduk karena terhempas ke atas kemudian pantat kembali menyentuh tempat duduk dengan kecepatan tinggi akibat kapal menerjang ombak tinggi. Kapal oleng, kapten!

Aku pun mengingat-ingat info perjalanan yang seharusnya 3 jam sampai ke Pulau Maratua, tempat kami tinggal sementara. Tapi, sudah 3 jam lebih, kami masih juga di laut lepas. Satu kali kapal terhenti di laut lepas karna mesin kapal mengeluarkan bunyi aneh, membuat aku membuka mata dan melihat air masuk dari belakang kapal saking tingginya gelombang. Aku buru-buru merem lagi dan menahan isi makanan dalam perut untuk tetap berada disana.

4,5 jam sudah dan akhirnya kabar gembira kudengar. Itu Maratua sudah dekat! Benar saja, 30 menit kemudian kami sampai di dermaga kecil dekat dengan perkampungan dimana homestay kami berada.

Pulau Maratua, kami datang!

Karna sudah gelap dan badan sudah gerah setelah 5 jam perjalanan. Kami langsung menuju homestay, untuk mandi, beristirahat dan siap-siap makan malam. Menghiraukan, betapa cantiknya Pulau Maratua sore itu.


cerita kini : sekarang kalau mencium bau minyak / bensin, kepala rasanya langsung pusing. Tapi gak bikin kapok buat jalan-jalan naik speedboat lagi donk. Indonesia terlalu cantik untuk dilewatkan hanya karna mabokan atau takut gelombang tinggi. hehe..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar